Pernah nggak, lo lihat video ayam goreng yang teksturnya aneh banget, penuh tonjolan kecil, dan malah bikin ilang selera makan? Atau liat roti isi keju yang bentuknya sempurna banget sampe curiga itu bikinan AI?
Gue juga awalnya penasaran sama tren kuliner AI. Tapi belakangan ini, bukannya makin penasaran, gue malah makin kapok. Di 2026, tren makanan AI-generated “ultra-flavored” lagi membanjiri medsos—dari ayam goreng yang “terlalu sempurna” sampe keju meleleh yang “terlalu instagramable.” Tapi jangan salah, ini bukan cuma soal rasa yang nggak cocok. Ini soal kekecewaan massal. Penelitian terbaru bahkan ngebuktiin, gambar makanan bikinan AI nggak cuma bikin kita kurang percaya, tapi juga bikin pengalaman rasa kita jadi hampa .
Saat ‘Ultra-Flavored’ Berubah Jadi ‘Ultra-Disappointing’
Coba bayangin ini: lo liat menu ayam goreng di restoran yang gambarnya dihasilkan AI—cahaya keemasan, tekstur super mulus, dan warna yang terlalu mencolok. Tapi pas lo datang, ayamnya biasa aja. Atau malah, lo udah ilang selera duluan gara-gara gambarnya aneh .
Fenomena ini sedang terjadi, dan dampaknya nggak main-main. Studi dari British Food Journal nemuin bahwa label “AI-generated” pada gambar makanan secara signifikan nurunin niat beli konsumen . Kok bisa? Karena AI mengurangi persepsi kita tentang “usaha” dan “keaslian” dari makanan itu. Kita mikir, “Ini cuma hasil generate, mana ada rasa beneran?” .
Penelitian lain yang lebih teknis bahkan nunjukkin, untuk gambar makanan beneran, estetika tinggi (simetris, rapi) bikin kita ngerasa makanan itu lebih enak dan sehat. Tapi buat gambar AI? Estetika tinggi nggak ngaruh apa-apa . Artinya, betapapun cantiknya ayam goreng AI, rasanya tetep aja nggak “nyambung” di kepala kita.
3 Studi Kasus: Dari Fenomena ‘Lobster’ Sampe Ayam Goreng yang Bikin Trypophobia
1. Ketika Semua Brand “Peluk Lobster” (Bukan Makanan, Tapi Konten!)
Di awal 2026, ada fenomena aneh: semua brand makanan, dari susu sampe permen, tiba-tiba “meluncurkan” produk rasa lobster. Tapi ini semua cuma “konsep” AI! . Ani bikin “Lobster Yogurt,” Ry bikin “Lobster Coffee,” dan lainnya. Ini bukan produk beneran, tapi konten yang didesain buat viral. Brand-brand ini pake AI buat ngehasilin gambar produk konsep yang unik dan absurd, dengan harapan orang bakal bahas dan share . Hasilnya? Ya, banyak yang viral. Tapi ini jadi contoh paling jelas: makanan AI seringkali cuma konten, bukan kuliner yang layak dimakan.
2. Ayam Goreng AI yang Bikin Ilang Nafsu Makan
Kasus ini paling nyata dan bikin kapok. Sebuah restoran ayam goreng lokal di Malaysia (katanya jaringan besar) pake gambar menu yang dihasilkan AI. Hasilnya? Bukan bikin laper, tapi bikin ilang selera dan bahkan memicu trypophobia (takut sama lubang/tonjolan) . Netizen komplain gambarnya “menjijikkan” dan “nggak realistis.” Ada yang bilang, “Ini bukan warung pinggir jalan, masa nggak bisa pake foto makanan beneran?” . Ini contoh sempurna: AI yang dipake asal-asalan malah ngerusak reputasi dan ngejauhin pelanggan.
3. AI Fruit Slop: ‘Brain Rot’ yang Menggurui
Coba lo liat video AI di TikTok: ada buah-buahan yang “bercanda” tentang cara nyimpen makanan. Ini tren yang disebut “AI Food Yelling At You” . Buah mangga teriak karena lo salah simpen di kulkas, atau pasta marah karena lo masak kebanyakan. Ini disebut “brain rot” — konten absurd yang bikin kita ketawa, tapi juga bikin kita mikir, “Ini yang namanya kecerdasan buatan? “.
Praktis: Bijak di Era Kuliner AI
Di tengah gempuran konten makanan AI, gue punya tips:
- Bedakan “Gambar Konsep” vs “Makanan Asli”: Kalo lo liat foto makanan yang terlalu sempurna dan nggak wajar—tekstur aneh, warna mencolok—curiga itu AI. Penelitian bilang, gambar AI seringkali “terlalu teratur” dan bikin kita curiga .
- Jangan Percaya Begitu Saja Sama “Rasa Ultra-Flavored”: Janji “kejutan rasa” dari AI seringkali cuma trik marketing. Brand pake AI bikin gambar-gambar absurd (kayak lobster susu) biar lo penasaran. Tapi ujung-ujungnya, cuma konten .
- Cari Ulasan dari Manusia Beneran: Jangan cuma liat gambar AI. Cari review dari pelanggan asli yang udah ngerasain langsung. Ini lebih jujur daripada gambar yang cuma hasil generate.
- Dukung Pelaku Usaha Kecil yang Pake AI untuk Pemasaran (Bukan Buat Nipu): Ada sisi baik AI, lho. Di Indonesia, program pemberdayaan ibu rumah tangga ngajarin pake AI buat bikin flyer promosi dan konten produk . Ini membantu UMKM untuk jualan, bukan buat nipu konsumen.
Kesimpulan: Lidah Kapok, Tapi Teknologi Terus Berlari
Fenomena kuliner AI-generated “ultra-flavored” di 2026 ini bukan cuma soal rasa yang nggak cocok. Ini soal kekecewaan yang didesain. Restoran pake gambar AI buat menarik perhatian, tapi begitu makanan aslinya nggak sesuai, konsumen bakal kapok dan pergi.
Penelitian ilmiah udah ngasih sinyal: gambar AI itu nggak seefektif gambar asli, bahkan bikin kita ngerasa makanannya kurang “berusaha” dan “asli” . Dan ketika brand-brand besar pake AI cuma buat bikin konten absurd (kayak lobster susu), kita jadi makin skeptis sama apa pun yang dibikin AI.
Intinya, di 2026, kita harus makin pinter. Jangan cuma lihat gambarnya, tapi baca ulasannya. Jangan cuma percaya “rasa baru,” tapi cari tahu siapa yang bikin. Karena pada akhirnya, makanan terbaik lahir dari dapur dan tangan manusia, bukan dari algoritma.